Senin, 29 November 2010

BATUAN METAMORF

Defenisi
            Proses metamorfosisme adalah proses yang menyebabkan perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur pada batuan karena panas dan tekanan tinggi, serta larutan kimia yang aktif. Hasil akhir dari proses metamorfisme adalah batuan metamorf. Jadi batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk oleh proses metamorfisme pada batuan yang telah ada sebelumnya. Batuan asalnya (yang telah ada sebelumnya) dapat berupa batuan beku, sedimen maupun metamorf.
Komposisi mineral
            Mineral-mineral penyusun batuan metamorf dapat dibedakan menjadi mineral-mineral yang :
1.      Mineral yang berbentuk kubus: kuarsa, feldsfar,kalsit, garnet dan piroksin.
2.      Berbentuk bukan kubus : mika, klorit, amfibol (hornblende), hematit, grafit dan talk.
Susunan mineral (fabrik)
            Dari kenampakan tiga dimensional, fabrik dapat dibedakan menjadi :
1.      Isotropik : susunan butir ke segala arah tampak sama.
2.      Anisotropik : kenampakan susunan butir mineral tidak sama ke segala arah.
Tekstur
            Berdasarkan ukuran butir mineralnya, dapat dibedakan menjadi :
1.      Fanaretik : butiran cukup besar untuk dapat dikenal dengan mata telanjang.
2.      Afanitik : butiran terlalu kecil untuk dapat dikenal dengan mata telanjang.
Struktur
            Struktur dalam batuan metamorf dikenal ada tiga :
1.      Granular : bila butir-butiran minerla yang berhubungan saling mengunci (inter locking).
2.      Foliasi : bila mineral-mineral pipih menbentuk rangkaian permukaan subparalel.
3.      Lineasi : bila mineral-mineral prismatik membentuk kenampakan penjajaran pada batuan, seperti genggaman pensil.
Di alam, batuan yang hanya mempunyai struktur lineasi sangat jarang, dan sebagian besar selain berlineasi juga berfoliasi. Foliasi mungkin tidak teratur, melengkung atau terlipat bila terdeformasi.

Klasifikasi
            Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah berdasarkan keadaan foliasi yang berkembang, dengan komposisi mineral berperan sebagai tambahan. Berdasarkan foliasi, batuan metamorf dibedakan menjadi tiga, yaitu batuan yang :
1.      Berfoliasi sangat kuat; yaitu yang mudah pecah melalui bidang foliasi, biasanya karena melimpahnya mika yang terorientasi. Batuannya adalah :
a.       “Slate” (batusabak). Bersifat afanitik, mempunyai kilap suram pada bidang foliasi. Berkomposisi utama mineral lempung. Batusabak tampak merah bila banyak mengandung hematit, hijau bila klorit, dan umumnya abu-abu sampai hitam bila banyak grafit.
b.       “Phyllite” (fillit). Bersifat afanitik, berbutir lebih kasar dari pada batusabak, dan bidang foliasinya mengkilat karena mika dan klorit yang sudah lebih banyak dari pada batusabak. Batu ini merupakan peralihan dari batusabk ke skis.
c.       “Schist” (skis). Bersifat faneritik, banyak mengandung mineral pipih yang terorientasi seperti : mika, klorit, grafit, talk.
2.      Berfoliasi rendah : yaitu yang berfoliasi tetapi tidak mudah/tidak dapat pecah melalui bidang foliasi. Orientasi mineral-mineral pipih berselingan dengan mineral-mineral yang tidak pipih yang berbutir sama besar. Batuannya antara  lain :
a. Gneiss (gneis). Bersifat faneritik. Berbutir sedang sampai kasar. Komposisinya yang utama : kwarsa, feldsfar, mika dan kadang-kadang hornblede.
3.      Berfoliasi sangat lemah sampai non foliasi: batuan didominasi oleh mineral-mineral berbentuk kubus, mineral-mineral pipih bila ada orientasinya acak. Batuan ada yang granular atau berlineasi. Batuannya antara lain :
a.       Qurtzite (kwarsit). Komposisinya yang sangat utama adalah kwarsa; bila pecah tak rata dan tidak mengelilingi butiran. Non foliasi.
b.       Marble (marmer). Berkomposisi utama kalsit; warnaabu-abu (biasanya) karena grafit (bereaksi positif dengan HCl).
c.        Hornfels. Bersifat afanitik sampai faneritik halus, berkomposisi kwarsa, feldsfar, mika (diketahui melalui pengamatan lapangan).
d.      Granofels. Bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi kwarsa dan feldsfar (yang berbentuk kubus).
e.       Granulit. Bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi piroksin dan garnet disamping kwarsa dan feldsfar.
f.        Serpentinite. Non foliasi sampai lineasi, berwarna hitam, hijau sampai kuning pucat. Komposisi utamanya serpentin.
Selain penamaan-penamaan dasr diatas, penamaan batuan dapat diberi awalan pada nama-nama dasar tersebut seperti :
  • Kloritik skis : artinya skis yang banyak mngandung klorit.
  • Skis kwarsa : artinya skis yang banyak mengadung kwarsa.
Disamping itu ada beberapa awalan atau akhiran yang perlu diperhatikan (hanya sekedar dikatahui).
1.      Blasto- sebagai awalan, menunjukkan adanya tekstur sisa dari batuan asal, seperti:
Blastoporfiritik; menunjukkan adanya tekstur sisa yang porfiritik dalam batuan metamorf.
2.      -blastik sebagai akhiran, menunjukkan akhir kristalisasi dalam kondisi padat.
3.      Meta- sebagai awalan yang diikuti oleh nama batuan asal, menunjukkan kenampakan sisa dari tekstur dan komposisi meneralogi yang masih bertahan, misal:
·         Metaandesit, artinya masih ada kenampakan sisa andesit pada batuan metamorf.
·         Metasedimen, artinya masih ada kenampakan sisa batuan sedimen pada batuan metamorf.
Penamaan batuan
            Penamaan batuan metamorf dapat didasarkan pada foliasi dan komposisi.
  1. Penamaan berdasarkan komposisi, misal :
·         Kwarsit
·        Serpentini
·           Granofel
·         Marmer
·        Granulit

b.      Penamaan berdasarkan foliasi, misal :
·         Skis
·         Slat
·         Filit
·         Gneis

Penamaan dengan foliasi dapat diikuti dengan nama mineral, bila mineral tersebut cukup bnayak, misal :
·         Skis mika : skis yang banyak mika
·         Gneis hornblende : gneis yang banyak mengandung hornblende.
Langkah-langkah penamaan batuan metamorf
Amati contoh dengan baik, kemudian :
a.       Tentukan teksturnya
b.      Tentukan strukturnya, berfoliasi atau nonfoliasi. Bila berfoliasi tentukan foliasinya apa
c.       Tentukan komposisinya
d.    Tentukan nama batuan berdasarkan kenampakan yang dominan. Bila berfoliasi biasanya penamaan berdasarkan komposisi.

Tidak ada komentar:

Entri Populer